«

»

Mar 31

=== SELAMAT DATANG ===

Assalamu  ‘alaikum  warahmatullahi  wabarokatuh …..

Selamat Datang para pengunjung…  saudaraku semua……

Sebagaimana kita ketahui, harta yang ada pada kita  adalah titipan Allah SWT yang secara prerogatif Allah berhak menambahnya, atau justru akan mengambilnya dari kita.
Oleh karena itu, selama harta yang dititipkan Allah masih ada pada kita, maka Allah akan meminta pertanggungjawaban untuk apa harta itu digunakan. Dalam hal ini, Allah meminta kita untuk menggunakan harta itu dengan baik dan benar sesuai tuntunan-Nya.
Salah satu tuntunan-Nya adalah bahwa di dalam harta kita ada hak fakir-miskin yang wajib kita tunaikan. Jika kewajiban ini tidak kita tunaikan? maka Allah mengkategorikan kita sebagai orang yang “Mendustakan Agama” atau dengan kata lain kita dianggap berdusta mengaku sebagai orang yang beriman.
Sebagaimana Allah berfirman:
“Tahukah kalian, siapakah yang mendustakan Agama? Mereka itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menyuruh orang untuk memberi makan orang-orang miskin”

Perintah Allah untuk menyisihkan sebagian rizki yang kita terima pun, toh tidak seberapa. Hanya 2,5% dari harta kita. Angka 2,5% ini (boleh lebih demi kesucian harta kita), tentu tidak akan membuat kita jatuh miskin. Masih 90% lebih bisa kita nikmati untuk diri kita (tetapi sudah bersih karena kita sudah mengeluarkannya untuk yang berhak).
Di sisi lain, di samping kita punya kewajiban terhadap pemberdayaan fakir-miskin, jika keberadaan mereka tidak kita perhatikan maka akan berakibat buruk pada tatanan kehidupan sosial, yang bisa berakibat buruk pada kita juga.
Bukankah jika fakir-miskin tidak terurus dengan baik, maka mereka menjadi bodoh dan liar? Dari kebodohan mereka maka menjadikan mereka tidak memiliki ilmu dan keterampilan, yang akhirnya akibat buruknya akan menjadi beban bangsa, BEBAN KITA SEMUA.
Kebodohan mereka menyebabkan mereka tidak memiliki pekerjaan yang baik, yang pada akhirnya sangat berpeluang mereka menjadi peminta-minta dan bahkan na’udzu billah, bisa menjadi KRIMINAL.
Karena itu, Allah SWT mengingatkan kepada kita tentang perlunya pemberdayaan kaum fakir-miskin dan anak-anak keturunan kita nantinya.

Dalam Al-Qur’an Surat An-Nisaa  ayat 9 yang artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah sekiranya meninggalkan keturunan yang lemah.  Mereka khawatir akan (kesejahteraan) mereka.. Oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah yang benar”

Sekali lagi, jika fakir-miskin  (dhu’afa), anak-anak yatim dan terlantar tidak kita kita pelihara dan berdayakan dengan baik, maka beberapa kemungkinan yang dapat terjadi:

1. Mereka akan menjadi beban bagi bangsa, juga BEBAN KITA.
2. Mereka akan melakukan tindakan bodoh bahkan menjadi kriminal karena kebodohannya yang nyata akan merugikan kita semua.
3. Mungkin akan dipelihara dan dididik oleh orang lain yang boleh jadi tidak suka kepada Islam.

Karena itu, inilah lahan ibadah bagi kita semua dengan porsi atau peran kita masing-masing, melalui harta, ilmu, waktu atau tenaga. Kami menyediakan waktu, tenaga, sedikit ilmu dan harta, Anda yang beramal dengan sebagian rizki/harta amanah Allah.

Selanjutnya, sedikit kiprah dan bakti yang kami lakukan, bertujuan utama untuk MEMBERDAYAKAN fakir-miskin (dhu’afa), anak yatim dan anak terlantar. Memberdayakan di sini maksudnya adalah mengangkat potensi mereka sehingga menjadi berilmu, berkualitas dan mandiri. Keyakinan kami, kita tidak akan bisa memberdayakan mereka jika orientasi kita hanya “menyuapi” makanan atau hal lain yang bersifat KONSUMTIF. Uang ratusan ribu mungkin akan habis hanya dalam hitungan hari. Oleh karena itu, priorotas kami adalah mendampingi dan membimbing mereka dengan skala prioritas:

1. EDUKATIF, yakni untuk keperluan pendidikan mereka.
2. PRODUKTIF, yakni untuk keperluan produktifitas kehidupan mereka, sehingga mereka bisa hidup secara mandiri.
3. KONSUMTIF, yakni (sebagai langkah terakhir) untuk memenuhi kebutuhan mereka secara langsung.

Asumsi sedrhananya, jika kita memberdayakan mereka dengan bekal ilmu, maka mereka menjadi berilmu. Dengan ilmu, mereka dapat memiliki pekerjaan dengan sedikit lebih baik. Setelah mereka dapat bekerja, maka mereka dapat menghidupi keluarganya, bahkan dapat berumah tangga dan menghidupi rumah tangganya untuk jangka yang lama karena mereka mandiri.
Bayangkan, berapa banyak jiwa yang berdaya melalui harta kita. Inilah yang disebut harta manfaat dan tumbuh/jariah, yakni akan tumbuh terus mendatangkan limpahan pahala dan berkah sepanjang hidup kita hingga kita menghadap Allah nantinya.
Insya Allah, amin …..

1 comment

  1. Dato Onn

    Salam, selamat sejahtera buat saudara sekalian…
    Saya pemuda dari malaysia, saya selalu mendengar dari teman2 mengatakan bahawa ada terdapatnya anak2 gadis yang bisa dijadikan jodoh, ingin sekali saya menemukan jalanya agar bisa saya coba mencari seseorang di pesantren2 atau pondok2 anak yatim yg terdapat disana…sapa tau setelah lama menanti..jodoh ketentuan untuk saya ada memanti disana…amin…harap dibantu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>